...mimpi saya adalah melihat generasi muda Indonesia yang modern, trendi, berwawasan luas, fasih berbahasa asing, juga fasih dalam menceritakan detail budaya bangsanya...
Buku imut berukuran 18.5 x 13 cm ini dibuka dengan mimpi penulisnya, yang mungkin bagi generasi muda sekarang bakalan menjadi tantangan tersendiri untuk menjadikan budaya lokal sebagai kebanggaan yang patut di-sharing dalam status status mereka dimedia sosial. Buku ini penuh dengan filosofi. Nggak percaya? Ini salah satu filosofi yang penulis cantumkan didalam buku dari petuah seorang teman - Ibu Obin - yang menjadi inspirasi dan motifasi dia dalam dunia batik yang dicintainya sejak kecil.
"Toko ini gak cuman jualan kain, Iwet. Toko ini adalah rumah, rumah dari orang orang yang suka kain dan juga rumah dari pembuat kain. Tidak hanya berjualan, tapi juga kesejahteraan para pembuat kain, pembatik dan penjahitnya sangat kami pikirkan. Mudah mudahan yang kamu bilang niru itu juga memikirkan kesejahteraan para pengrajinnya."
Kalau dilihat dari daftar isinya, kalian pasti berpikir bakalan menemukan uraian yang padat tulisan yang sering kita temui untuk buku buku sejenis. Dan itu salah. Tampilan buku ini benar benar diluar pakem pada umumnya. Unik dan tentu saja menarik. Jujur, saya semangat banget bacanya. Colourful, full of pictures dan yang penting adalah bahasanya, mudah dimengerti. Plus yang harus saya acungi jempol buat penulisnya, buku ini begitu detail memberikan informasi mulai dari awal sampai bagian akhir. Buku yang ditulis berdasarkan hasil survey selama dua tahun ini benar benar membuka satu pintu buat saya, yaitu pintu batik, mengenalnya lebih dalam dan mencoba memahami prosesnya. Mungkin dengan begini, kedepannya saya akan benar benar bisa menerima kenapa batik tulis begitu mahal *wink* sesuatu yang penuh dengan keindahan dan sarat akan pesan, memang layak untuk 'dibela belain' menyisihkan uang untuk mendapatkannya. Benar nggak?
Dan pada bagian ini, saya tersadar, sudah seberapa mampunya saya untuk menghargai seorang artisan untuk batik. Karya karya yang tidak semua orang bisa membuatnya, tapi mendapatkan penghargaan yang minim. Pada tulisan "Seniman Tanpa Tepuk Tangan" saya trenyuh, ternyata hanya segelintir orang yang benar benar 'ingin tahu' orang orang dibalik indahnya selembar kain batik. Mungkin Iwet salah satu suksesor buat mereka dan harapan saya akan muncul Iwet Iwet lainnya, sehingga kita bisa berdiri dan memberi tepuk tangan yang riuh saat sebuah pagelaran adibusana batik, tidak hanya untuk desainernya tapi juga para pembatiknya ikutan jalan diatas catwalk, sekali kali memperlihatkan diri mereka yang sesungguhnya adalah seniman yang layak juga diberikan standing applause.
Akhirnya saya bisa menyimpulkan, buku ini dibuat dengan desikasi yang penuh dengan cinta. Banyak harapan ditulis dalam buku ini oleh penulis. Tinggal kita yang membaca, apakah akan bisa memenuhi harapan harapan tersebut setelah selesai membaca buku ini. Lumayan memberikan pencerahan dan memberi motifasi untuk semakin memantapkan kita menggunakan batik dalam kegiatan keseharian. Terima kasih Iwet.
...oleh LiliKrist...

Waaaaaaa......dpt catatan dan signaturenya Iwet....
ReplyDelete