Gudo, Home For Talented Glass Beadmen
Oleh Lili Krist
Kami tidak akan menulis tentang proses pembuatan manik kaca. Dasar pembuatannya sendiri sebenarnya sama dengan pembuatan lampwork diluar negeri, yang membedakan adalah alat alat yang digunakan saja plus bahan kacanya. Kami akan menampilkan sisi Gudo yang lain, sebuah desa yang masih asri dengan pertanian serta perkebunan. Yang sebenarnya dua jenis kegiatan inilah pekerjaan utama pengrajin manik kaca Gudo. Membuat manik manik adalah pekerjaan sekunder. Yuukkss kita cuci mata dengan pemandangan khas Indonesia.
Welcome
Gapura selamat datang
Kaum lelaki di Gudo separonya memiliki pekerjaan ganda. Dipagi dan sore hari mereka menjadi seorang petani disawah atau diperkebunan tebu. Siang dan malam mereka baru membuat manik kaca. Kenapa seperti itu? Karena membuat manik kaca saja tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari hari, apalagi bahan bahan untuk membuat manik manik selalu cenderung naik tiap tahunnya. Dan kalau pas waktunya panen, pasti selama seminggu bahkan kadang kadang sampai dua minggu, para pengrajin akan meninggalkan kegiatannya membuat manik manik. Mereka lebih fokus buat ngurusin hasil panenan dan menjualnya kekota.
Main road
Jalan menuju sawah Batang padi yang mengering setelah dipanen
Pemandangan seperti inilah bila panen padi tiba. Sebelum mereka memanen padi, adat jawa mengajarkan mereka untuk berterima kasih atas hasil panen yang didapat dengan cara mengadakan selamatan, mereka menyebutnya BANCAKAN. Sehabis memanen, mereka berteduh dibawah pohon rindang, menghilangkan penat dengan angin sepoi sepoi, nampak pada photo dibawah ini.
Dan didalam lumbung lumbung yang dibangun dengan tradisional inilah hasil panen disimpan.
Tumpukan jerami yang yummy buat kerbau dan sapi Pulang kerumah dengan bahagia
yang setelah panen usai mereka akan bekerja keras setelah memanen padi
untuk membajak lahan supaya siap ditanam kembali
Selain sawah, di Gudo juga ada lahan untuk menanam tebu. Photo diatas adalah jalan menuju ladang tebu.
Irigasi baik untuk sawah maupun ladang tebu Bapak ini siap bekerja diladang tebu, walaupun bukan
milik dia sendiri, tetap semangat pergi keladang
diterik yang panas
Sibuk mengolah lahan tebu dengan menggunakan traktor.
Ladang tebu yang berdempetan dengan sawah
Saatnya melihat yang indah indah dari pemandangan alam Gudo. Sengaja kami jepretkan beberapa kecantikan yang berhasil kami temukan diantara rumput rumput liar yang banyak tumbuh dipinggir pinggir jalan desa maupun dipinggiran sawah atau ladang.
Sekarang yuukkss kita lihat masyarakatnya. Rumah rumah yang ada didepan jalan raya desa, biasanya dirubah menjadi toko untuk menjual manik kaca hasil karya warga setempat. Sementara itu rumah rumah disana kebanyakan masih menggunakan desain tradisional. Bahkan beberapa masih menggunakan bambu yang dianyam atau gedhek sebagai tembok.
Photo dibawah ini, beberapa rumah yang menggunakan desain tradisional.
Well...
Tour de Gudo-nya kami akhiri disini ya. Ketemu lagi dengan sesuatu yang unik, cantik, menarik dan tentu saja orijinal dari Gudo bulan depan.
Tour de Gudo-nya kami akhiri disini ya. Ketemu lagi dengan sesuatu yang unik, cantik, menarik dan tentu saja orijinal dari Gudo bulan depan.
Kepingin ke desa Gudo.....asri sekali......apakh semua org punya side job sbg pembuat manik kaca?
ReplyDeleteNggak semuanya punya side-job sebagai pembuat manik manik Sist. Dan susahnya, yg muda2kebanyakan keluar desa untuk kerja ditempat lain =( Sekarang aja bisa dihitung dgn jari berapa jumlah pengrajin manik di Gudo.
ReplyDelete