Sejak kapan sih, loe bikin aksesoris?
Gue bikin aksesoris sejak tahun 95/96-an. Ketika itu sedang trend besar-besaran aksesoris rasta (reggae) dan juga surfing cult. Karena saat itu gue adalah -- mengutip omongan temen gue -- "manusia boke", jadi ketika gue melihat temen gue make (aksesoris), dengan sedikit arogansi karena nggak bisa beli, gue bilang, "Halah! Gue bisa bikin kok itu. Dan gampang!". Kenapa gue bisa ngomong begitu, karena yang gue lihat, aksesoris rasta itu modelnya simple. Gue pikir, kalau orang lain bisa buat dan jual, kenapa gue nggak?? Kemudian gue mulai browsing alat dan bahan. Kebetulan gue punya teman yang pernah tinggal di daerah Kota. Gue kontak dia dan minta ditemani untuk berburu alat dan bahan di daerah Kota. Kenapa gue ke arah Kota? Karena gue memang pernah denger kalo di sana tempatnya alat dan bahan untuk pembuatan aksesoris banyak dijual. Sejak saat itu mulai deh gue tabung duit jajan gue untuk membeli alat dan bahan. Setiap weekend gue dan teman gue itu menjelajahi daerah Kota. Mulai dari Glodok sampai Mangga Dua. Dengan dana yang tipis itu gue harus mesiasati semua kebutuhan bahan yang gue perlukan. Berhubung belanja di daerah Kota itu memang harus grosiran atau partai besar, gue selalu terjebak dengan dana karena harus membeli dalam kuota yang banyak. Alhasil dalam 1 minggu gue hanya bisa membeli 1 warna manik-manik aja. Minggu depan-nya balik lagi, beli lagi. Begitu seterusnya hingga gue hapal daerah sana dan semua warna manik-manik gue milikin. Setelah itu, berdua dengan teman di daerah rumah gue yang juga sehobi, mulai deh kita ngebuat-buat.
Awal mula gue membuat aksesoris, gue mengambil karakter dan warna etnik Dayak, Batak, Toraja dan Indonesia Timur yang gue pelajari dari buku-buku. Setelah itu vakum sebentar karena mulai sibuk kuliah di kampus.
Tapi vakum pun nggak berlangsung lama, karena di kampus gue ketemu teman yang juga hobi dengan aksesoris dan manik-manik. Saat itu kita berdua memulai petualangan menjajakan aksesoris buatan sendiri di wilayah Blok M. Dengan modal bahan-bahan aksesoris yang kita punya, kita ngampar di salah satu teras pertokoan dan mulai mengerjakan aksesoris on the spot. Salah satu kejadian lucu terjadi saat itu, ada cewek kuliahan yang nyamperin dan niat beli. Tapi waktu dia nanya-nanya, kita cuma bisa bengong dan nggak bisa jawab. Pertama karena kita nggak tau berapa harga yang akan kita kasih, kedua karena dia sangat cantik, jadinya kita cuma menatap dia terus nggak putus-putus... hohohooo...
Dulu sih nggak ada hal yang berat yang mempengaruhi
untuk membuat dan menyukai aksesoris. Gue ini penggila... kalau ditelaah sejarah
gue, ternyata waktu kecil gue kalau diajak nyokap ke pasar, sukanya nongkrongin
tukang aksesoris yang pake koper-koper yang di balut kain bludru merah atau
hitam.
Kemudian ketika gue mulai menggunakan aksesoris secara massive, gue merasa menjadi manusia yang merdeka. Karena nggak semua orang bisa, mau, dan punya aksesoris seperti gue. Makin ke sini, gue makin sadar kalau aksesoris itu adalah peninggalan atau salah satu kebudayaan tua Indonesia yang bisa memperkaya kita secara kultur. Tapi karena peradaban baru menggerus kebudayaan aksesoris kita, yang di anggap gak rapi lah, ini lah, itu lah...f*ck lah... Karena itu gue semakin menjadi gila untuk tetap membuat dan menggunakannya.
Kemudian ketika gue mulai menggunakan aksesoris secara massive, gue merasa menjadi manusia yang merdeka. Karena nggak semua orang bisa, mau, dan punya aksesoris seperti gue. Makin ke sini, gue makin sadar kalau aksesoris itu adalah peninggalan atau salah satu kebudayaan tua Indonesia yang bisa memperkaya kita secara kultur. Tapi karena peradaban baru menggerus kebudayaan aksesoris kita, yang di anggap gak rapi lah, ini lah, itu lah...f*ck lah... Karena itu gue semakin menjadi gila untuk tetap membuat dan menggunakannya.
Bendungan-bendungan dari budaya peradaban baru sekarang akan membunuh kebudayaan aksesoris kita. Kita ini terlalu tolol untuk mengadopsi sebuah peradaban baru. Sehingga semua teradopsi menjadi hal-hal yang nggak jelas kebenarannya. Buat gue, aksesoris itu sudah menjadi simbolisasi dari kebebasan gue berekspresi, jadi gue akan tetap membuat! ;)
Mood sudah mulai hilang dari gue. Terutama kalau gue
udah kebanyakan minum.. berat rasanya untuk menyentuh benda-benda itu (alat dan bahan aksesoris, red.).
Sekarang gue lebih ke sekelebatan mata apa yang gue liat, baru gue bikin.
Tema-tema sebenarnya sudah ada di literatur-literatur yang berbentuk buku yang
pernah gue baca. Kepala gue cuma merekam point-point intinya saja lalu
melahirkan bayi baru dari literatur-literatur tersebut... :D
Biasanya loe membuat aksesoris menggunakan bahan apa? Kenapa?
Dulu gue banyak menggunakan bahan plastik. Baik
plastik murni maupun bahan-bahan yang mengandung unsur plastik beberapa persen
saja. Itu karena dulu di literatur-literatur yang gue baca, pembuatan aksesoris
banyak menggunakan plastik. Dan juga memang pada saat itu, hanya bahan
plastik-lah yang gue punya. Sekarang gue banyak menggunakan bahan logam dan
kulit. Pengaruh musik, bikers dan gaya steampunk serta vintage membuat gue
menggunakan bahan-bahan itu.
Selain itu gue juga ada pesan yang ingin gue sampaikan lewat aksesoris buatan gue. Maka dari itu selain kulit dan logam, gue juga mulai merambah ke ‘sampah’. Sampah di sini maksudnya adalah bahan-bahan sisa atau bagian dari sebuah benda yang biasanya tidak terpakai atau apa saja yang ada di sekitar kita yang bisa didaur ulang menjadi sesuatu. Walaupun bahannya hanyalah sampah yang kelihatan sederhana, tapi kalau kita pandai mengolahnya, tetap bisa jadi keren.
Apa karya terbaru loe?
Karya terbaru gue?? Hampir setiap bulan gue ngeluarin
karya terbaru. Baik itu hanya pengembangan dari karya yang sebelumnya, maupun
inovasi terbaru. Tapi inovasi terbaru itu amat sangat langka... :D nggak
gampang... :D perlu semedi yang panjang... :D
Kalau yang
terbaru banget.. ya yang gue tampilin di Festival Jalan Jaksa, Agustus lalu. Ada 3
sebenernya. Tapi cuma 2 yang bisa gue tampilin. Yang 1 lagi nggak kekejar...nggak
cukup waktunya...
Yang gue tampilin itu, satu, inovasi baru dari gue. Cat
semprot yang biasa kita kenal dengan sebutan Pylox itu, kan ada bagian kepala
semprotnya, nah bagian itu yang gue jadiin kalung dan anting. Juga ada beberapa
eksplorasi dari bahan itu. Tapi karena bahan nggak mendukung, jadinya cuma bisa
nampilin yang anting dan kalung aja.
Yang satu lagi sebenarnya bukan inovasi baru, tapi
lebih ke sebuah pengembangan atau eksplorasi dari yang pernah gue kerjain dulu.
Gue bikin slider BH (bra, red.) menjadi kalung choker.
Kenapa karya terbaru loe menggunakan bahan-bahan itu?
Mmm... untuk yang kepala cat semprot, gue ingin
mengangkat isu lingkungan. Sampah yang banyak bisa menimbulkan masalah. Kepala
cat semprot itu adalah salah satu sampah yang ada di rumah gue. Gue menggunakan
cat semprot untuk nyelesain kerjaan-kerjaan gue yang lain... (selain membuat aksesoris, Deky juga adalah
pemilik bengkel sepeda custom, red.). Gue memang suka ngumpulin
sampah-sampah. Jadi ketika mata gue menangkap 1 bahan dari sampah yang
bertebaran, gue kumpulin di rumah. Setelah itu langsung tersirat keinginan bikin ini bikin itu dari sampah-sampah itu...
Kalau yang bahannya slider BH, karena gue dulu pernah
ngerjain dari bahan itu dan ada sisa banyak. Jadi gue tergugah untuk mengolah
lebih lanjut. Jadi deh tuh choker dari slider BH... :D
Gue adalah orang yang nggak punya sabar panjang. Jadi
kalau ide udah dapet, tapi bahan nggak ada, gue bisa langsung gusar.
Gue maunya harus jadi dengan segera, walau akhirnya gue jadi nggak bisa tidur untuk menemukan bentuk aksesorisnya. Kalau dihitung durasinya, ada yang panjang ada yang pendek. Semua tergantung bahan dan dana serta alat pendukung kerjanya. Kalau sudah ada 1 alat atau bahan yang gue butuhin dan barangnya nggak ada, itu bisa jadi kendala besar. Akhirnya gue cuma bete... bisa tahunan jadinya karena gue harus ngadain yang gue nggak punya tersebut. Kalau yang cepet mah, 1 hari juga jadi. Atau bisa juga cuma beberapa jam. Tergantung tingkat kesulitannya juga.
Gue maunya harus jadi dengan segera, walau akhirnya gue jadi nggak bisa tidur untuk menemukan bentuk aksesorisnya. Kalau dihitung durasinya, ada yang panjang ada yang pendek. Semua tergantung bahan dan dana serta alat pendukung kerjanya. Kalau sudah ada 1 alat atau bahan yang gue butuhin dan barangnya nggak ada, itu bisa jadi kendala besar. Akhirnya gue cuma bete... bisa tahunan jadinya karena gue harus ngadain yang gue nggak punya tersebut. Kalau yang cepet mah, 1 hari juga jadi. Atau bisa juga cuma beberapa jam. Tergantung tingkat kesulitannya juga.
Apa atau siapa yg menginspirasi loe dalam menghasilkan sebuah karya?
Yang menginspirasi gue dalam berkarya teramat banyak.
Bingung juga gue nyebutinnya. Ada yang dari temen-temen punk gue, Sid Vicious,
Vivienne Westwood, Janis Joplin, suku-suku pedalaman, biker-biker, ... banyak
banget.... bingung gue nyebutinnya...
Setelah membuat sebuah karya, bagaimana tingkat kepuasan loe terhadap hasil akhirnya?
Kepuasan gue akan klimaks ketika gue sudah bertemu
dengan orang yang menggunakan aksesoris buatan gue, lalu ketika gue
tanya-tanyain, dia nggak tau kalo gue adalah pembuatnya. Gue juga akan puas
banget kalau setelah orang memakai karya gue, karya gue itu mempengaruhi attitude mereka.
Bagaimana cara loe menentukan harga jual dari setiap
karya aksesoris yang loe hasilkan?
Terus terang kadang-kadang gue sendiri juga nggak ngerti. Semuanya
muncul begitu aja begitu karya gue sudah berwujud benda. Lama masa produksi dan
hasil eksekusi akhir biasanya yang menentukan harga benda tersebut. Gue
berprinsip bahwa gue bukan mesin. Walaupun pada saat mengerjakan sesuatu gue
mengambil semangat dan fokus sebuah mesin. Kuantitas bahan juga sedikit banyak
menjadi penentu. Semakin langka bahan yang gue gunakan, akan semakin mahal pula
harga barang yang gue hasilkan.
Tapi dulu waktu gue masih aktif jualan di distro-distro, gue biasa membuat harga yang lumayan tinggi yang berguna untuk menutup biaya konsinyasi. Jadi gue bisa bermain harga dengan aman tanpa merusak harga pasar produk-produk gue. saat ini cara menentukan harga seperti ini juga masih suka gue gunakan.
Pernah ngga loe mati gaya dalam membuat aksesoris? Biasanya apa penyebabnya, dan bagaimana solusinya supaya nggak mati gaya dan kembali berkarya?
Biasanya gue mati gaya ketika gue menghadapi
tekanan-tekanan atau eksekusi yang nggak maksimal. Kalau eksekusi nggak
maksimal, biasanya gue tinggalin dulu sampai gue ketemu jawaban untuk
memaksimalkan eksekusinya. Sementara tekanan-tekanan bisa datang dari keluarga (penguasa masa lalu / rezim orba,
- sedikit curhat, karena ternyata sejarah masa lalu keluarga juga sedikit banyak menyumbang tekanan buat Deky saat berkarya, red.), dari temen-temen, terutama dari pembajakan. Tapi untungnya, biasanya kalau gue
depresi, hal itu akan berbalik menjadi energi untuk gue membuat karya baru.
Semua tekanan sudah pernah gue lalui, sekarang tinggal energi bola panas gue
aja yang keluar untuk menghantam tekanan-tekanan itu semua. Tentu saja menghantamnya dengan
karya-karya baru gue. Khususnya untuk para pembajak, kalau itu memang sebuah
kebetulan ide-nya sama, eksplorasi lo yang laen mana??
Ada ngga aksesoris yang udah lama pengen loe buat,
tapi sampai sekarang belum terbuat? Apa kendalanya?
Waduh! Apa yah??? Gue juga lupa... :D
Paling sih kendala di beberapa hal aja... Bahan, alat
yang nggak mendukung, dana dan studio kerja yang mendukung. Kalau soal waktu...
I have so plenty of time for the
excecution... ;)
Apa
harapan loe sebagai pembuat aksesoris untuk ke depannya?
Harapan gue adalah gue akan tetap berkarya membuat
inovasi-inovasi baru, aksesoris bisa diterima di segala lini bentuk kultur,
teman-teman bisa mengapresiasi semua karya teman-teman lainnya secara layak. Dan
satu hal yang gue pengen adalah, mungkin ini mimpi besar gue kali yah... Para
pembuat aksesoris tradisional bisa bertahan dengan bentuk dan gayanya dan
memiliki eksplorasi yang baru dari yang sudah pernah ada. Juga para pembuat
aksesoris ini bisa hidup dari membuat aksesoris, dan diakui.
Kematian aksesoris karena kultur itu sendiri yang
mengebiri eksistensi aksesoris dalam kehidupan sehari-hari kita. Gue pengen
melihat orang-orang kantoran make aksesoris sesuka hatinya. Kayaknya kita harus
punya hari aksesoris, deh... Sebagai perayaan besar serta pemujaan terhadap
kemerdekaan berekspresi hingga memuja aksesoris adalah sesuatu yang eksotis! Kita
bukan patung yang dibuat tanpa sebuah keindahan aksesoris di badan... ;)
oleh : Mikko E. Wiropati
foto-foto : Mikko E. Wiropati, Tumblr, Dokumentasi Pribadi Dq Rahmone'Z', Cathalia Trebla, Silja & Iwul Gumulya
oleh : Mikko E. Wiropati
foto-foto : Mikko E. Wiropati, Tumblr, Dokumentasi Pribadi Dq Rahmone'Z', Cathalia Trebla, Silja & Iwul Gumulya











:D keren...editan nya cuy... ;)
ReplyDeleteDQ Rahmone'Z'
good.job../// kt.gvrv..bhs.inggrisnye..eidelss
ReplyDeleteharapan tambahan w.... :D punya studi sendiri ataw kerja di perusahaan kreatif yang udah all in!! ;)
ReplyDeleteDQ Rahmone'Z'