with Dq Rahmone 'Z'
...article by Mikko Wiropati...
...photograph above by Livina Intania...
Pesan yang ingin gue sampaikan melalui karya karya gue semua tergantung pada apa yang sedang terjadi di kehidupan sosial, sehingga kadang-kadang aksesoris yang gue buat mengandung pesan sosial. Kadang-kadang juga tidak ada pesan apa-apa sama sekali. Biasanya pesan itu akan muncul dari apa yang gue lihat, apa yang gue rasakan, apa yang gue dengar. Kalau gue sedang memiliki perhatian khusus pada satu hal baru, bisa saja itu gue terjemahkan ke dalam satu bentuk. Kebanyakan sih pesan yang ingin gue sampaikan adalah pesan-pesan sosial, isu-isu lingkungan, kemerdekaan berpikir dan berekspresi.
Pesan lainnya mungkin adalah, kita ini memiliki keanekaragaman bentuk aksesoris yang sangat kaya, kita wajib menumbuh kembangkan hal itu. Jangan sampai basic serta sejarah kebudayaan tradisional kita tergerus dan hilang karena terhantam aturan-aturan yang nggak jelas dari peradaban baru sekarang ini.
Contohnya ketika sedang trend anting-anting piercing berlubang besar. Sebenarnya itu mengambil model dari budaya Majapahit, Dayak dan beberapa suku pedalaman lainnya. Ironisnya, karena peradaban baru makin menggerus sejarah tradisional kita, anting-anting piercing berlubang besar itu baru menjadi trend setelah orang-orang dari luar Indonesia menggunakannya! Seharusnya kita bisa jadi trendsetter dunia, ini malah cuma bisa jadi buntut, ngikutin trend yang datang dari luar... menyedihkan...
Pesan lainnya mungkin adalah, kita ini memiliki keanekaragaman bentuk aksesoris yang sangat kaya, kita wajib menumbuh kembangkan hal itu. Jangan sampai basic serta sejarah kebudayaan tradisional kita tergerus dan hilang karena terhantam aturan-aturan yang nggak jelas dari peradaban baru sekarang ini.
Contohnya ketika sedang trend anting-anting piercing berlubang besar. Sebenarnya itu mengambil model dari budaya Majapahit, Dayak dan beberapa suku pedalaman lainnya. Ironisnya, karena peradaban baru makin menggerus sejarah tradisional kita, anting-anting piercing berlubang besar itu baru menjadi trend setelah orang-orang dari luar Indonesia menggunakannya! Seharusnya kita bisa jadi trendsetter dunia, ini malah cuma bisa jadi buntut, ngikutin trend yang datang dari luar... menyedihkan...
Awalnya gue hanya pengen membuat tempat sabun dari bahan batok kelapa. Gue punya seorang teman, Qnoy namanya, profesinya adalah penjual plastik di Pasar Minggu. Kalau gue butuh bahan-bahan yang tidak biasa, hal pertama yang gue lakukan adalah mengontak Qnoy. Demikian juga waktu itu. Hari ini gue kontak, besoknya dia nongol bawain batok kelapa. Batok kelapa belum juga tersentuh, besoknya dia datang lagi bawain tanduk kerbau. Tadinya gue sudah menolak untuk menerima tanduk kerbau itu, karena gue belum pernah ‘bermain’ dengan bahan seperti itu. Tapi Qnoy memaksa. Akhirnya gue terima tanduk kerbau itu.
Bentukan-bentukan awal yang gue buat dari tanduk kerbau tersebut adalah beberapa pin dan pendant kalung yang ukurannya standar. Setelah puas membuat pin-pin dan pendant-pendant, ternyata masih ada sisa tanduk kerbau dalam ukuran yang cukup besar. Gue sempat bingung mau diapakan sisa tanduk kerbau yang lumayan besar itu. Gue coba browsing di internet mencari bentukan apa lagi yang bisa dihasilkan dari sebuah tanduk kerbau. Kebanyakan tanduk kerbaunya dipipihkan lalu dibuat untuk gagang dan bingkai kacamata. Kemudian gue coba untuk memipihkan tanduk kerbau tersebut, tapi sayangnya gagal karena alat-alat yang tidak mendukung. Tapi dari kegagalan tersebut, terbentuk sebuah model seperti bangle. Tapi jadinya terlalu panjang. Kalau nggak dikombinasikan dengan bahan lain, modelnya jadi biasa-biasa saja. Sempat terpikir untuk membungkus bagian yang lebar dengan batik, tapi rasanya kurang asyik. Kemudian gue terpikir dengan stock spikes metal gue yang masih banyak. Semakin dipikir semakin dibayangkan, sepertinya akan jadi keren kalau karakter tanduk yang sudah terbentuk, digabungkan dengan spikes metal. Gue nggak berniat untuk merubah bentuk yang sudah terjadi. Kontur tanduknya kalau dilihat-lihat jadi seperti gabungan antara lidah api dan akar pohon-pohon seperti di film Lord of The Rings, juga bentuk tribal pada trend surfing tahun ’96-an.
Kombinasi bentuk bangle dan spikes yang memberi kesan warrior tersebut yang mengilhami gue untuk memberi nama Pagan Goth. Pagan Goth sendiri adalah nama sebuah agama dan kebudayaan kuno di Eropa yang pada zamannya digencet habis-habisan oleh peradaban baru yang sedang berkuasa. Namun mereka tidak menyerah begitu saja, mereka melawan dengan cara mereka sendiri.
Sementara Hyper Blast adalah gambaran ledakan kemarahan penuh emosi ekstrim gue terhadap situasi yang gue lihat dan rasakan saat ini. Jadilah kedua nama tersebut bergabung dalam bentuk sebuah bangle.
Rentang masa pengerjaan yang cukup lama, kurang lebih 6 hari, menjadikan bangle tersebut bisa disebut sebagai salah satu Mahakarya yang pernah gue lahirkan. Karena itu dalam beberapa kesempatan, seperti Craft Day dan Pembukaan Pameran Patung Dolorosa Sinaga, yang gue lakukan hanya memajang bangle tersebut untuk dipamerkan tanpa ada niatan untuk menjualnya. Setelah bangle itu jadi dan dipamerkan, reaksi positif datang dari para crafter dan pengunjung yang melihatnya di craft day maupun di pameran patung. Reaksi negatif hanya datang dari para vegan, karena bahan baku gelang yang menggunakan tanduk kerbau. Ada seseorang yang menanyakan berapa harga bangle tersebut, gue hanya menjawab dengan pertanyaan, “Berani-nya berapa?”, sampai beberapa kali bertanya, jawaban gue juga tetap seperti itu. Akhirnya karena harga tidak bisa disepakati, gue putuskan untuk memberikan bangle tersebut dengan barteran sepatu boots yang sedang gue inginkan. Sayang cara ini juga tidak berhasil. Akhirnya bangle tersebut gue kirim ke Jerman, ke salah satu pelanggan fanatik gue yang kemudian menjadi reseller barang-barang hasil karya gue.
Bentukan-bentukan awal yang gue buat dari tanduk kerbau tersebut adalah beberapa pin dan pendant kalung yang ukurannya standar. Setelah puas membuat pin-pin dan pendant-pendant, ternyata masih ada sisa tanduk kerbau dalam ukuran yang cukup besar. Gue sempat bingung mau diapakan sisa tanduk kerbau yang lumayan besar itu. Gue coba browsing di internet mencari bentukan apa lagi yang bisa dihasilkan dari sebuah tanduk kerbau. Kebanyakan tanduk kerbaunya dipipihkan lalu dibuat untuk gagang dan bingkai kacamata. Kemudian gue coba untuk memipihkan tanduk kerbau tersebut, tapi sayangnya gagal karena alat-alat yang tidak mendukung. Tapi dari kegagalan tersebut, terbentuk sebuah model seperti bangle. Tapi jadinya terlalu panjang. Kalau nggak dikombinasikan dengan bahan lain, modelnya jadi biasa-biasa saja. Sempat terpikir untuk membungkus bagian yang lebar dengan batik, tapi rasanya kurang asyik. Kemudian gue terpikir dengan stock spikes metal gue yang masih banyak. Semakin dipikir semakin dibayangkan, sepertinya akan jadi keren kalau karakter tanduk yang sudah terbentuk, digabungkan dengan spikes metal. Gue nggak berniat untuk merubah bentuk yang sudah terjadi. Kontur tanduknya kalau dilihat-lihat jadi seperti gabungan antara lidah api dan akar pohon-pohon seperti di film Lord of The Rings, juga bentuk tribal pada trend surfing tahun ’96-an.
Kombinasi bentuk bangle dan spikes yang memberi kesan warrior tersebut yang mengilhami gue untuk memberi nama Pagan Goth. Pagan Goth sendiri adalah nama sebuah agama dan kebudayaan kuno di Eropa yang pada zamannya digencet habis-habisan oleh peradaban baru yang sedang berkuasa. Namun mereka tidak menyerah begitu saja, mereka melawan dengan cara mereka sendiri.
Sementara Hyper Blast adalah gambaran ledakan kemarahan penuh emosi ekstrim gue terhadap situasi yang gue lihat dan rasakan saat ini. Jadilah kedua nama tersebut bergabung dalam bentuk sebuah bangle.
Rentang masa pengerjaan yang cukup lama, kurang lebih 6 hari, menjadikan bangle tersebut bisa disebut sebagai salah satu Mahakarya yang pernah gue lahirkan. Karena itu dalam beberapa kesempatan, seperti Craft Day dan Pembukaan Pameran Patung Dolorosa Sinaga, yang gue lakukan hanya memajang bangle tersebut untuk dipamerkan tanpa ada niatan untuk menjualnya. Setelah bangle itu jadi dan dipamerkan, reaksi positif datang dari para crafter dan pengunjung yang melihatnya di craft day maupun di pameran patung. Reaksi negatif hanya datang dari para vegan, karena bahan baku gelang yang menggunakan tanduk kerbau. Ada seseorang yang menanyakan berapa harga bangle tersebut, gue hanya menjawab dengan pertanyaan, “Berani-nya berapa?”, sampai beberapa kali bertanya, jawaban gue juga tetap seperti itu. Akhirnya karena harga tidak bisa disepakati, gue putuskan untuk memberikan bangle tersebut dengan barteran sepatu boots yang sedang gue inginkan. Sayang cara ini juga tidak berhasil. Akhirnya bangle tersebut gue kirim ke Jerman, ke salah satu pelanggan fanatik gue yang kemudian menjadi reseller barang-barang hasil karya gue.



kereeen & sangaar... :D
ReplyDeleteSmoga kontemporer jewelry macem gini bisa maju juga perkembangannya di Indonesia.
ReplyDelete