lanjutan dari "Manik-manik untuk Papua 1 : Berangkaaaaaaat" dan "Manik-manik untuk Papua 2 : Ilu dan Budaya Manik-manik"... jadi, untuk lengkapnya tengok dan baca itu dulu ya?
Semula, rencananya adalah mengadakan kegiatan “Manik-manik untuk Papua” di teras samping Puskesmas Ilu, tapi ternyata di hari kedua ada kegiatan pemeriksaan dokter spesialis bedah, spesialis kandungan, dan spesialis penyakit dalam dengan dokter-dokter dari Jayapura dan kota Mulia, akibatnya Puskesmas terlalu ramai. Akhirnya diputuskan kegiatan “Manik-manik untuk Papua” dipindahkan di teras depan rumah tempat kami menginap. Begitu mendengar akan ada kegiatan ini, mama-mama sangat senang sekali.
Lihat...
semua senaaaaang... masing-masing membuat satu kalung, satu gelang, dan
satu anting-anting untuk dirinya sendiri dan satu kalung atau gelang
untuk anak-anak yang dibawa.
Mama
dengan bayi ini terbiasa kerja cepat rupanya... paling cepat selesai
dan langsung dipakai. Bagus ya kalung yang dia buat? Tidak lama kemudian
Malikha kecil juga segera memakai kalung barunya.
Berpose dulu sejenak dengan kalung, gelang dan anting-anting hasil buatan sendiri.
Dan esoknya hari Jumat...
Oh ya, anak muda ganteng itu namanya Rudy, kelas 2 SMP, anak pemilik rumah yang kami sewa.
Dia yang banyak membantu kami... memastikan bak-bak kamar mandi terisi
air, menyalakan genset saat hari sudah mulai gelap, air panas untuk
minum tersedia dalam termos besar, dan banyak lagi.. Sejak hari pertama
kegiatan manik-manik, dia senang sekali dan dia ikut membantu mama-mama
dan teman-temannya membuat kalung. Kreatifitas dan bakat seninya
ternyata lebih dari para mama lhoo.. Tali-tali biru hijau kuning dari mbak Lilik akhirnya dibuat tas selempang dengan teknik macrame... aku ajarkan sebentar dan Rudy langsung mengerti... sayang aku lupa memfotonya.
Dan
ini mama yang membawa babi kecil di dalam nokennya, tas rajut dari tali
berwarna coklat... itu yang ditaruhnya di belakang punggungnya. Jadi
lucu yaa.. ada yang bawa bayi, anak kecil, anjing... dan babi...
hahaha... tapi semua tenang tidur kecuali bayi-bayi yang terkadang
rewel.
Malikha kecil sibuk bermain-main sendiri dengan sepatu temanku, sementara Rudy sang kakak sedang membantu seorang mama.
Gadis kecil ini cantik dengan kalung hitam dan anting-anting baru yang mamanya buat.
Disini aku belajar bahwa ternyata bagus atau tidak adalah sesuatu yang relatif, dan aku juga belajar memahami pola pemikiran mereka tentang keindahan. Keindahan ternyata adalah konsep yang cukup relatif ya..., sering berganti dan bergeser seiring perubahan waktu, jaman… berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain... mungkin itulah sebabnya mengapa kita sering mengikuti trend mode, agar tetap up to date dengan apa yang dianggap indah dan digemari di saat itu, meskipun setiap orang punya konsep tentang keindahannya masing-masing. Dengan pemahaman seperti itu, dan mempelajari manik-manik macam apa yang mereka suka, beberapa hari kemudian aku dan beberapa teman dari tim membuat 15 buah kalung untuk mama-mama kader kesehatan di Ilu.
Mama-mama kader sedang bekerja menyetrika linen-linen dan pakaian operasi, dan teman-teman Palang Merah berjibaku ramai-ramai membuat kalung-kalung untuk mama-mama kader. Terima kasih ya teman-teman...
Mama-mama kader ini ingin sekali mengikuti kegiatan pembuatan kalung manik-manik, tetapi tidak bisa karena mereka harus bekerja membantu kegiatan operasi katarak dengan bersih-bersih, mencuci dan menyetrika baju-baju dan linen operasi, serta merawat dan menjaga pasien yang baru dioperasi.
Inilah kalung-kalung dan beberapa gelang hasil gotong royong... Yang belajar dan menikmati pekerjaan membuat kalung ternyata tidak hanya mama-mama Papua disana, tapi juga teman-teman tim program katarak yang ikut serta membantu membuatkan mama-mama kader kalung-kalung indah ini. Makasih yaaa....
Mama-mama kader... akhirnya dapat kalung manik-manik juga... mereka bilang: 'Terimakasih untuk hadiahnya, kami senaaaang sekali.. waah, waaah...'
Dua hari meronce manik-manik bersama mama-mama di Ilu membawa kenangan tersendiri yang tidak akan pernah aku lupakan. Terharu dan senang rasanya melihat bagaimana mama-mama di Ilu begitu bahagia dan semangat dengan kegiatan "Manik-manik untuk Papua" ini.
Bersambung ke bagian 4 : Manik-manik untuk Papua : Kenangan di Wamena dan Biak



















No comments:
Post a Comment