Bagian 1 dari 4 rangkaian tulisan "Manik-manik untuk Papua"
Sebelumnya, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena lamaaaaaaa sekali baru selesai catatan perjalanan ini, terutama buat yang mendonasikan simpanan manik-manik berharganya untuk kegiatan ini.
Sore, hari Jumat tanggal 6 Desember 2013. Jarum jam di kantor menunjukkan pukul 15:30… satu jam sebelum orderan taksi ke Bandara Soekarno-Hatta tiba. Sekali lagi cek kelengkapan barang-barang yang akan kubawa, terutama manik-manik donasi dari beberapa teman-teman yang sangat pemurah. Terus terang kali ini aku tercengang takjub dengan kemurahan hati mereka.. tidak tanggung-tanggung.. total berat manik-manik tersebut ternyata tidak kurang dari 7 kg. Wow!
Sebelumnya, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena lamaaaaaaa sekali baru selesai catatan perjalanan ini, terutama buat yang mendonasikan simpanan manik-manik berharganya untuk kegiatan ini.
Sore, hari Jumat tanggal 6 Desember 2013. Jarum jam di kantor menunjukkan pukul 15:30… satu jam sebelum orderan taksi ke Bandara Soekarno-Hatta tiba. Sekali lagi cek kelengkapan barang-barang yang akan kubawa, terutama manik-manik donasi dari beberapa teman-teman yang sangat pemurah. Terus terang kali ini aku tercengang takjub dengan kemurahan hati mereka.. tidak tanggung-tanggung.. total berat manik-manik tersebut ternyata tidak kurang dari 7 kg. Wow!
Lili Krist Manik Jawa dan satu orang temannya, Tanti Saraswati, Tanty Sri Hartanti, Mikko Wiropati, Isworo Larasati,
Febrini A. Risyad, dan tentunya juga dari saya sendiri Esterina K. Jagiella… Satu persatu kiriman mereka saya foto, termasuk sedikit Gudo
seedbeads dari saya, pasang foto-fotonya di Grup Facebook Indonesia Bead Lovers(IBL) sesaat sebelum berangkat.
Dari Mikko Wiropati yang paling semangat langsung kirim begitu tau aku mau ke papua *peluk!*
Dari Mbak Isworo Larasati... surprise tiba-tiba aja udah ada di meja kerjaku.. cakep-cakep bener batu2nya..
Dari Febrini A. Risyad.. yang ajaib nyampe cepet bener.. 1/2 hari meskipun pake reguler, kirimnya siang, keesokan paginya udah nyampe.. si kurir udah nongol nyampe depan pintu sebelum jam 8 pagi... pas sedetik sebelum aku buka pintu mau berangkat ke kantor... Ajaib kan?
Dari mbak Tanti Saraswati... paling duluan kontak mbak LiliKrist semangat mau ikutan ngirim... warna-warninya yang oke pasti jadi rebutan.
Dari mbak LiliKrist Manik Jawa dan temannya... Mbak Lilik inilah penggagas ide kegiatan Manik untuk Papua ini.
Tali biru kuning hijau itu sempat bingung mau dibikin apa...
Dari mbak Tanty Sri Hartanti... gara-gara mbak LiliKrist salah kasih nomer telpon (aku minta nomer telpon mbak Tanti Saraswati, eh dikasih nomer telpon mbak Tanty Sri Hartanti)... akhirnya malahan jadi ikutan nyumbang. Manik-maniknya oke banget lhoo..
Yang ini ajaib juga.. paket manik-manik tiba 10 menit sebelum aku berangkat dari kantor ke airport. Waktunya pas bener ya?
Dan... manik kaca seedbeads Gudo dari aku :)
Tuh kaan.. banyak bener manik-maniknya. Ada manik-manik kaca, kristal, batu, akrilik, resin, kerang, koral, kayu... belum lagi bahan-bahan penunjangnya, ada kawat-kawat termasuk memory wire, tali-tali, jumpring berbagai ukuran, ring untuk keychain, komponen untuk anting-anting termasuk earring hooks... dan masih banyak lagi... lengkap dah pokoknya.
Kegiatan ini berawal dari obrolan ringan dengan mbak Lilik Manik Jawa yang tahu kalau aku sering ke pelosok pegunungan di Papua untuk tugas kantor. Akhirnya tercetuslah ide untuk mengajarkan mama-mama di Papua cara merangkai kalung, sekaligus menyumbangkan manik-manik untuk mereka. Pertama kali dilaksanakan di Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, dengan manik-manik dari mbak Lilik Manik Jawa dan dari aku sendiri... ndak banyak, sekitar 2 kiloan lebih... hehe...
Kali ini tujuan perjalananku adalah ke satu kota kecamatan kecil, Distrik Ilu di Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Cari-cari petanya di google dan wiki, untuk kasih gambaran dimana sebenarnya Ilu itu, kok ya ndak ada ya.. Yang jelas, Puncak Cartenz, puncak tertinggi di Indonesia terletak di kabupaten yang sama. Jadi bisa dibayangkan dinginnya ya? Ilu terletak dilereng pegunungan dengan ketinggian tak kurang dari 2500 meter di atas permukaan air laut, sangat dingin tapi untungnya tidak sampai beku yaa :).
Dari Mikko Wiropati yang paling semangat langsung kirim begitu tau aku mau ke papua *peluk!*
Dari Mbak Isworo Larasati... surprise tiba-tiba aja udah ada di meja kerjaku.. cakep-cakep bener batu2nya..
Dari Febrini A. Risyad.. yang ajaib nyampe cepet bener.. 1/2 hari meskipun pake reguler, kirimnya siang, keesokan paginya udah nyampe.. si kurir udah nongol nyampe depan pintu sebelum jam 8 pagi... pas sedetik sebelum aku buka pintu mau berangkat ke kantor... Ajaib kan?
Dari mbak Tanti Saraswati... paling duluan kontak mbak LiliKrist semangat mau ikutan ngirim... warna-warninya yang oke pasti jadi rebutan.
Dari mbak LiliKrist Manik Jawa dan temannya... Mbak Lilik inilah penggagas ide kegiatan Manik untuk Papua ini.
Tali biru kuning hijau itu sempat bingung mau dibikin apa...
Dari mbak Tanty Sri Hartanti... gara-gara mbak LiliKrist salah kasih nomer telpon (aku minta nomer telpon mbak Tanti Saraswati, eh dikasih nomer telpon mbak Tanty Sri Hartanti)... akhirnya malahan jadi ikutan nyumbang. Manik-maniknya oke banget lhoo..
Yang ini ajaib juga.. paket manik-manik tiba 10 menit sebelum aku berangkat dari kantor ke airport. Waktunya pas bener ya?
Dan... manik kaca seedbeads Gudo dari aku :)
Tuh kaan.. banyak bener manik-maniknya. Ada manik-manik kaca, kristal, batu, akrilik, resin, kerang, koral, kayu... belum lagi bahan-bahan penunjangnya, ada kawat-kawat termasuk memory wire, tali-tali, jumpring berbagai ukuran, ring untuk keychain, komponen untuk anting-anting termasuk earring hooks... dan masih banyak lagi... lengkap dah pokoknya.
Kegiatan ini berawal dari obrolan ringan dengan mbak Lilik Manik Jawa yang tahu kalau aku sering ke pelosok pegunungan di Papua untuk tugas kantor. Akhirnya tercetuslah ide untuk mengajarkan mama-mama di Papua cara merangkai kalung, sekaligus menyumbangkan manik-manik untuk mereka. Pertama kali dilaksanakan di Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, dengan manik-manik dari mbak Lilik Manik Jawa dan dari aku sendiri... ndak banyak, sekitar 2 kiloan lebih... hehe...
Kali ini tujuan perjalananku adalah ke satu kota kecamatan kecil, Distrik Ilu di Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Cari-cari petanya di google dan wiki, untuk kasih gambaran dimana sebenarnya Ilu itu, kok ya ndak ada ya.. Yang jelas, Puncak Cartenz, puncak tertinggi di Indonesia terletak di kabupaten yang sama. Jadi bisa dibayangkan dinginnya ya? Ilu terletak dilereng pegunungan dengan ketinggian tak kurang dari 2500 meter di atas permukaan air laut, sangat dingin tapi untungnya tidak sampai beku yaa :).
![]() |
| Yak!! penanda merah itu..tepat di tengah Papua yaa.. Photo Ilu, diambil dari pesawat tahun 2011 Pemandangan Ilu dari salah satu bukit |
Dari beberapa kali perjalanan ke beberapa tempat di pegunungan tengah Papua, bertemu dan berbincang-bincang dengan masyarakat terutama suku Dani, aku mengetahui bahwa mereka sangat menghargai manik-manik, atau “ingken” dalam bahasa Dani. Suku Dani adalah suku terbesar di Papua yang terutama mendiami daerah pegunungan tengah. Bagi suku ini, ingken sudah menjadi bagian dari budaya mereka. Bila diperhatikan dari beberapa daerah yang pernah aku kunjungi, budaya ingken ini masih sangat dipegang dan dihargai. Hampir setiap orang mengenakan kalung manik-manik, dari bayi sampai orang-orang tua, baik perempuan ataupun laki-laki, semua gemar mengenakan ingken. Sebagian besar berupa kalung manik-manik yang dilingkar-lingkarkan di leher mereka… semakin banyak semakin baik, semakin menarik.
OK,
kembali ke laptop... eh, Jakarta. Dari Jakarta pesawat Garuda Boeing
737-800NG lepas landas
jam 21:15 malam, terlambat 20 menit dari jadwal, dan tiba di Airport
Sentani di
Papua jam 07:15 Sabtu pagi keesokan harinya setelah transit 30 menit di
Makassar dan Biak. Lama ya terbangnya? Indonesia kita ini luas bener...
segitu lama terbang, mendarat masih di Indonesia juga... hehehe...
Dari Bandara Sentani, menempuh sekitar satu jam
perjalanan darat menyusuri Danau Sentani yang elok, untuk tiba di
kota Jayapura... beristirahat untuk perjalanan selanjutnya (hihihi,
bayar tidur sih benernya...) sambil mempersiapkan segala sesuatunya
untuk kegiatan Program Katarak.
Keesokan harinya, Minggu, kami kembali ke Bandara Sentani untuk melanjutkan perjalanan ke kota Wamena dengan pesawat baling-baling Trigana Air Service ATR 72-200. Hanya perlu waktu 50 menit untuk terbang dari Sentani ke Wamena. Hari itu juga, kami bisa mendapatkan 2 kendaraan 4-WD (double garden) tanpa kesulitan berarti, disewa untuk perjalanan darat ke Ilu. Setelah menginap satu malam di Wamena, tepat pukul 8:30 hari Senin kami berangkat ke Ilu. Perjalanan darat yang penuh goncangan, terlompat-lompat dan beberapa kali berseru aduh! karena kepala terantuk pintu mobil. Maklum, infrastruktur jalan masih jelek, berbatu-batu, lumpur, dan terkadang harus masuk ke kali berbatu-batu saat menyeberang karena tak ada jembatan atau jembatan yang ada rusak. Yah, kata pak supir: cuci ban dulu... hehehe... Bener-bener seru lho.. :D. Belum lagi pemandangannya yang aduhai indahnya, gunung-gunung yang indah dengan latar belakang langit biru, dan tampak honai-honai (rumah adat suku Dani) di kejauhan di lereng-lereng gunung... Jadi merasa bersyukur dikasih kesempatan menikmati yang begini ini. Untungnya sudah beberapa hari tidak turun hujan, sehingga jalan agak kering dan tidak ada resiko mobil tertanam dalam lumpur.




![]() |
| Pemandangan Danau Sentani dari atas pesawat sesaat sebelum mendarat |
Keesokan harinya, Minggu, kami kembali ke Bandara Sentani untuk melanjutkan perjalanan ke kota Wamena dengan pesawat baling-baling Trigana Air Service ATR 72-200. Hanya perlu waktu 50 menit untuk terbang dari Sentani ke Wamena. Hari itu juga, kami bisa mendapatkan 2 kendaraan 4-WD (double garden) tanpa kesulitan berarti, disewa untuk perjalanan darat ke Ilu. Setelah menginap satu malam di Wamena, tepat pukul 8:30 hari Senin kami berangkat ke Ilu. Perjalanan darat yang penuh goncangan, terlompat-lompat dan beberapa kali berseru aduh! karena kepala terantuk pintu mobil. Maklum, infrastruktur jalan masih jelek, berbatu-batu, lumpur, dan terkadang harus masuk ke kali berbatu-batu saat menyeberang karena tak ada jembatan atau jembatan yang ada rusak. Yah, kata pak supir: cuci ban dulu... hehehe... Bener-bener seru lho.. :D. Belum lagi pemandangannya yang aduhai indahnya, gunung-gunung yang indah dengan latar belakang langit biru, dan tampak honai-honai (rumah adat suku Dani) di kejauhan di lereng-lereng gunung... Jadi merasa bersyukur dikasih kesempatan menikmati yang begini ini. Untungnya sudah beberapa hari tidak turun hujan, sehingga jalan agak kering dan tidak ada resiko mobil tertanam dalam lumpur.




Setelah 7 jam lebih, sampailah rombongan di Ilu, kota tujuan
kami. Disinilah kegiatan operasi katarak dan pemeriksaan mata gratis akan
dilaksanakan… begitu juga kegiatan “Manik-manik untuk Papua”.
(Bersambung ke "Manik-manik untuk Papua 2 : Ilu dan Budaya Manik-manik)
(Bersambung ke "Manik-manik untuk Papua 2 : Ilu dan Budaya Manik-manik)











No comments:
Post a Comment